Saturday, November 21, 2015

JURNALISTIK

INVESTIGASI
Investigasi merupakan salah satu teknik yang digunakan oleh wartawan untuk mencari sebuah kebenaran suatu kasus yang menjadi bahan berita dengan cara menyelidiki dan memeriksa kasus tersebut lebih mandalam.

Contoh Investigasi – Ikan Berformalin dan Sosis Busuk Ada di 3 Supermarket di Jakarta Timur


Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta melakukan razia makanan dan minuman di beberapa supermarket kawasan Jakarta Timur, hari ini. 

Sasaran razia kali ini adalah Giant, Superindo dan Carrefour Cakung, Jakarta Timur.

Hasil razia tersebut, ditemukan 10 bungkus sosis yang sudah mulai membusuk di Giant. Juga ditemukan ikan salmon fillet, otak-otak dan telur ikan yang mengandung formalin di Superindo. 
Sedangkan di Carefour ditemukan sayap ayam yang nyaris busuk juga. Seluruh makanan tersebut disita petugas Dinas Kelautan dan Pertanian untuk dimusnahkan.
Saat razia di tiga supermarket tersebut, para petugas mengambil beberapa sampel makanan seperti daging sapi, ayam, baso, sosis serta burger secara acak. Semua makanan itu diperiksa menggunakan laboratorium yang sudah disiapkan untuk melihat apakah mengandung formalin, boraks atau unsur minyak babi serta uji pembusukan. 
Ternyata dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan makanan yang nyaris membusuk dan mengandung formalin.
Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Timur Sabdo Kurnianto menerangkan razia ini dilakukan untuk melindungi warga Jakarta saat membeli dan mengonsumi makanan atau minuman yang tidak layak konsumsi. 
Produk makanan yang tidak aman harus disita dan tidak diizinkan diperjualbelikan.
“Produk yang mengandung formalin dan nyaris busuk ini harus disita, kalau tetap dijual bisa berakibat fatal untuk kesehatan konsumen. Yakni bisa mengalami keracunan, diare, dehidrasi bahkan bisa mengakibatkan kematian. Sebab pada makanan yang busuk telah berkembang mikro organisme atau bakteri yang membahayakan tubuh manusia,” kata Sabdo, hari ini.
Kasie Mutu Olahan dan Usaha Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Rita Nirmala, menerangkan hasil pemeriksaan laboratorium ikan salmon fillet, otak-otak dan telur ikan menunjukkan positif mengandung formalin. 
“Hasil laboratorium kami menunjukkan, jenis ikan salmon fillet, otak-otak dan telur ikan positif mengandung formalin. Seluruhnya kami amankan dari Superindo Cakung. Seluruh produk harus dimusnahkan karena tidak layak konsumsi,” tegasnya.
Meski telah terbukti mengandung formalin, Asisten Store Manager Superindo Dionysius Prabawa membantah salmon fillet, otak-otak dan telur ikan mengandung bahan pengawet mayat. 
Namun, ketiga produk makanan tersebut tetap ditarik dari etalase penjualan. “Ya ini kan baru pemeriksaan awal, belum finallah. Tapi untuk kebaikan konsumen, kami menarik produk tersebut dan untuk sementara tidak dijual,” ujarnya.
Store Manager Giant Cakung Stefanus mengakui kondisi sosis yang dijualnya sudah dalam kondisi tidak bagus. Karena itu, pihaknya langsung menarik sosis tersebut dari peredaran. 
Namun dia membantah telah lalai menjual produk makanan, sebab dalam prosesur biasanya makanan atau minuman akan ditarik menjelang tiga hari masa kadaluarsa.

Referensi :
-       Barus, Sedia Willing. 2010. Jurnalistik; Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta: Erlangga.

-       http://www.beritasatu.com/kesehatan/64033-ikan-berformalin-dan-sosis-busuk-ada-di-3-supermarket-di-jakarta-timur.html

JURNALISTIK

HARD NEWS
Hard News merupakan berita yang memiliki batasan waktu, tidak bisa dipublikasi kapan saja, biasanya berita ini dipublikasi atau disiarkan secara langsung. Pada umumnya berita bersifat kaku, dan memiliki batasan kata didalamnya.


Contoh Hard News – Kepolisian di Daerah Siaga Jelang Pilkada Serentak 2015

 

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan Kepala Daerah 2015 akan segera digelar pada 9 Desember mendatang, kepolisian daerah pun mulai disibukkan dengan persiapan menghadapi potensi kericuhan di daerah mereka. di Nusa Tenggara Timur, Kapolda NTT Brigadir Jenderal Endang Sunjaya sudah memerintahkan agar ada penambahan personel di daerahnya. 
Menurut Endang, personel tambahan tersebut akan dikirim ke sembilang daerah yang menyelenggarakan pilkada. Namun begitu, dia menegaskan tenaga tambahan akan dikirim seandainya benar-benar dibutuhkan. 
"Personel tambahan dari Polda NTT dan satuan Brigadir Mobil Daerah (Brimobda) yang ada di Kupang, Atambua, dan Maumare akan dikirim ke sembilan daerah jika memang membutuhkan penambahan pasukan," kata Endang , Sabtu (21/11). 
Endang mengklaim bahwa para Kapolres di sembilan Kabupaten yang akan menyelenggarakan pilkada sudah siaga untuk menjaga dan mengawal pelaksanaan pilkada yang akan dilaksanakan serentak tersebut. 
Setidaknya 2/3 personel di tingkat Polres sudah siap melaksanakan tugas dan fungsinya selama Pilkada 2015 berlangsung. Jika personel tersebut kurang barulah penambahan dari pusat akan dikirimkan.
Tak jauh berbeda dengan NTT, persiapan matang pun dilakukan Polda Maluku Utara. Kepala Bidang Humas Polda Malut, Ajun Komisaris Besar Hendry Badar mengimbau agar masyarakat bisa menyelenggarakan pilkada dengan aman dan damai. 
Dia pun meminta agar masyarakat tidak ada yang terpengaruh dengan adanya provokasi dan isu-isu miring yang muncul jelang pelaksanaan pilkada. Apalagi isu-isu tersebut muncul tidak jelas dari mana. 
"Polda Malut telah melakukan pengamanan pilkada dan mengedepankan pendekatan persuasif, tapi jika ada pihak yang tetap melakukan tindakan anarkis pasti akan ditindak tegas," kata Hendry.(pit)

Referensi :

-       http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151121175301-20-93169/kepolisian-di-daerah-siaga-jelang-pilkada-serentak-2015/

JURNALISTIK

LAPORAN INTERPRETATIF
Merupakan bentuk laporan yang lebih bebas yang mengandung pemikiran, penafsiran, pandangan, dan pendapat wartawan. Laporan interpretative biasa dibuat oleh wartawan yang sudah sangat memahami berita yang disampaikan atau biasa disebut dengan wartawan Senior.

Contoh Laporan Interpretatif – Maut Intai Wartawan di Suriah


Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia jurnalistik kembali dikejutkan oleh kematian satu lagi wartawan Amerika Serikat di tangan militan Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS, menyiratkan ancaman yang semakin nyata bagi pekerja media yang meliput di wilayah konflik.
Korban terbaru adalah Steven Sotloff yang tewas dipenggal lehernya oleh seorang algojo ISIS, direkam dalam video dan diunggah di internet Selasa pekan ini.
Sebelumnya 19 Agustus lalu, wartawan AS lainnya, James Foley, dibunuh ISIS dengan pesan yang sama untuk Presiden Barack Obama: hentikan serangan ke Irak.
Baik Sotloff dan Foley diculik saat meliput konflik di Suriah.
Lembaga Committee to Protect Journalists, CPJ, memperkirakan sedikitnya 70 wartawan tewas saat meliput di Suriah; lebih dari 80 wartawan diculik, dan sekitar 20 lainnya hilang tanpa jejak, menjadikan negara ini wilayah paling berbahaya untuk pekerja media.
Jumlah wartawan yang diculik ini lebih banyak ketimbang saat konflik di Irak tahun 2007 dengan 25 kasus.
"Jurnalis tahu bahwa meliput wilayah perang sangat berbahaya dan mereka bisa terbunuh dalam baku tembak. Tapi dipenggal di depan kamera karena menjalankan tugas jurnalisme murni tindakan barbar," tulis Direktur Eksekutif CPJ, Joel Simon.
"Kami mengutuk keras pembunuhan wartawan Steven Sotloff. Dia, seperti James Foley, pergi ke Suriah untuk menyajikan kisah. Mereka warga sipil, bukan perwakilan pemerintah. Pembunuhan mereka adalah kejahatan perang dan pelakunya harus diadili," kata Simon lagi.
Menurut laporan International News Safety Institute, INSI, pekan lalu empat pekerja media lainnya tewas - satu di Gaza dan tiga di Pakistan.
Menurut INSI, selain di Suriah, negara yang paling berbahaya bagi wartawan adalah Irak, Pakistan, Afganistan, Yaman, Somalia, Mesir, Sudan, Cad, Republik Afrika Tengah, Kongo dan Nigeria.
Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara CPJ mengatakan, selain ISIS, pelaku penculikan biasanya adalah kelompok militan independen yang butuh uang, salah satu caranya menculik dan minta tebusan.
"Tren penculikan ini dimulai pada akhir 2012. Pada dasarnya mereka mengincar wartawan dari negara yang kira-kira bisa bayar tebusan," kata Mansour.
Salah satu korbannya adalah Jonathan Alpeyrie, pewarta foto keturunan Prancis-Amerika dari perusahan Polaris, yang diculik di Damaskus, Suriah, pada 29 April dan dibebaskan tiga bulan kemudian dengan tebusan US$450 ribu atau Rp5,3 miliar.
"Pasukan pemberontak sangat putus asa sehingga tidak peduli lagi pada reputasi mereka di luar negeri. Mereka melihat orang-orang seperti kami sebagai kesempatan emas," kata Alpeyrie dalam wawancaranya dengan media Paris, Journal de la Photographie.
Tidak hanya wartawan, tapi juga penerjemah, pemandu lokal dan supir menjadi sasaran penculikan untuk tebusan. Hal ini disebabkan terpuruknya perekonomian akibat konflik yang memicu masalah di kalangan kelompok-kelompok pemberontak.
"Jumlah penculikan kini lebih banyak dan lebih kejam. Tidak dipungkiri bahwa perpecahan kelompok bersenjata dan meningkatnya jumlah kelompok radikal, menyumbang banyak dalam naiknya angka penculikan," kata penyelidik senior Amnesty International, Donatella Rovera, yang sudah sudah lama di Suriah untuk menyelidiki pelanggaran HAM, seperti dikutip dari New York Times.

Referensi :
-       Barus, Sedia Willing. 2010. Jurnalistik; Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta: Erlangga.

-       http://www.cnnindonesia.com/internasional/20140904113345-120-2445/maut-intai-wartawan-di-suriah/

JURNALISTIK

SOFT NEWS

Merupakan berita yang penulisannya lebih luwes, isi yang tidak terlalu berat atau kaku. Jumlah kata yang tidak dibatasi juga menjadi salah satu factor yang membuat softnews lebih terkesan luwes dan terkadang bersifat menghibur.

Contoh Soft News - Ucapkan “Diet Plastik” untuk Lingkungan
KERTOSONO- Rahman (26), yang biasa dipanggil Pimen, salah satu anggota Komunitas Nol Sampah dari Surabaya memberikan banyak pengetahuan para peserta Ekspedisi Brantas 3 (20/12). Salah satunya yaitu penyebab utama kerusakan yang terjadi pada lingkungan. Menurut Rahman, kerusakan lingkungan sebagian besar disebabkan oleh manusia sendiri.

Saat ini, masalah terbesar yang harus dibrantas adalah maraknya penggunaan bahan plastik. Kebanyakan dari masyarakat mengabaikan hal tersebut. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa tidak ada dampak apapun setelah memakai bahan plastik. Padahal jika mereka mengetahui dampak dari penggunaan plastik bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Plastik mengandung bahan berbahaya bagi lingkungan. Sekali pakai dan terbuang, maka satu titik tanah akan mengalami kerusakan. Apalagi hampir seluruh dunia masih menggunakan bahan palstik. Berapa luaskah tanah yang sudah mengalami kerusakan?

Rahman mengatakan, ia masih banyak menemukan masyarakat yang menggunakan bahan plastik terutama di daerah pedesaan. “Mungkin kurangnya pengetahuan, mereka hidup serba apa adanya tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan”, ujarnya.

“Ini harus dihentikan”, tegas Rahman. “Lama kelamaan bumi kita akan ambruk hanya karena berawal dari hal kecil seperti sekarang ini”, lanjutnya.
Di warung, toko, supermarket bahkan mall, sebagian besar masih menggunakan tas kresek sebagai pembungkusnya. Tas kresek terbuat dari bahan yang tidak mudah terurai oleh tanah. Hal ini yang menyebabkan tanah menjadi tidak subur.

Rahman beserta rekan-rekannya dari Komunitas Nol Sampah mengajak masyarakat untuk menanggulangi masalah plastik. Mereka biasa menyebutnya dengan “Diet Tas Kresek”. Dengan dibuatnya tas dari bahan kain, tidak akan merusak lingkungan. Harapannya, masyarakat bisa mengikuti apa yang Rahman dan kawan-kawan lakukan demi menjaga kelestarian lingkungan.


Referensi :
-       jejak-berita.blogspot.com/2009/03/perbedaan-hard-news-dan-softnews.html

-       http://amaliakata.blogspot.co.id/2013/11/perbedaan-hard-news-dan-soft-news.html

JURNALISTIK

SEJARAH JURNALISTIK

Jurnalistik atau jurnalisme memiliki akar kata dari bahasa latin yaitu du jour yang berarti “harian” atau “setiap hari”. Dan dalam bahasa perancis, kata du jaour itu sendiri memiliki makna  catatan tentang kejadian sehari – hari. Dari waktu ke waktu pengertian dari jurnalistik semakin diperbaharui dan para ahli juga banyak memberikan pendapat. Jadi, secara umum jurnalistik dapat diartikan sebagai kegiatan penyampaian pesan atau kabar berita melalui media media komunikasi yang ada.

Sebelumnya dalam bidang studi jurnalistik lebih dikenal dengan “pengetahuan di bidang persurat kabaran” atau Zeitungskunde (Belanda) yang diperkenalkan oleh seorang pakar ekonomi  bernama Karl Bucher dan dimajukan kembali oleh Max Weber, sosiolog berkebangsaan Jerman yang menyelidiki soal aspek sosiologis yang dapat mendukung ilmu persuratkabaran.

Sejalan dengan berkembangnya media komunikasi yang menjadi alat untuk penyebaran pesan atau berita dan semakin kompleksnya objek studi persuratkabaran, para ahli mengubah Zeitungskunde menjadi Publizistik (1930) yang berasal dari bahasa Latin publicare yang berarti “menumumkan”.

Setelah Perang Dunia II, di Amerika Serikat telah terjadi perubahan studi ilmu publisistik secara mendasar dikarenakan banyaknya penyelahgunaan dan dijadikan sebagai alat propaganda atas kepemimpinan Adolf Hitler.

Jadi pada dasarnya, jurnalistik merupakan kegiatan komunikasi massa yang menyangkut kajian studi cukup mendalam, luas dan menyangkut kajian mengenai proses komunikasi massa. Makadari itu, jurnalistik sebagai cikal bakal ilmu komunikasi massa tidak terlepas dari kajian seluruh aspek media massa.

Referensi :

Barus, Sedia Willing. 2010. Jurnalistik; Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta: Erlangga.